Friday, April 26, 2013

Metafisika Khusus; Teologi (Teodisi) dan Antropologi (Filsafat Manusia)


Metafisika Khusus;
Teologi (Teodisi) dan Antropologi (Filsafat Manusia)
A.      Teologi (Teodisi)
Teologi metafisika sering juga dikenal dengan theologica. Theologica hanyalah merupakan bagian dari teologi metafisik. Theologica hanya membahas tentang kepercayaan terhadap Allah Yang Mahakuasa di tengah-tengah realitas kejahatan yang ada di dunia ini.
Teologi metafisik mempersoalkan eksistensi Allah yang dibahas terlepas dari kepercayaan agama. Eksisitensi Allah dibahas secara rasional, sehingga Allah menjadi objek filsafat yang perlu dianalisis dan dipecahkan. Apabila Allah dilepaskan dari kepercayaan agama, hasil analisis dan pembahasan yang diperoleh bisa berupa sersuatu dari beberapa kemungkinan berikut;
1.      Allah tidak ada.
2.      Tidak dapat dipastikan bahwa Allah itu ada atau tidak.
3.      Allah ada tanpa dibuktikan secara rasional.
4.      Allah ada, dengan bukti rasional.
Beberapa filsuf terkenal seperti Anselmus, Descartes, Thimas Aquinas, dan Imanuel Kant telah berupaya membuktikan bahwa Allah itu benar-benar ada. Bukti-bukti tersebut antara lain;
1.      Argumen ontologis. Semua manusia memiliki ide tentang Allah, sementara kenyataan lebih sempurna dari pada ide. Dengan demikian Tuhan pasti ada dan realitas keberadaanya itu pasti lebih sempurna daripada ide manusia tentang Tuhan.
2.      Argumen Kosmologis. Setiap akibat pasti ada sebabnya. Dunia(kosmos) merupakan akibat, penyebab adanya dunia adalah Tuhan.
3.      Argumen Teleologis. Segala sesuatu adalah tujuanya. Karena itu segala sesuatu memiliki tujuan, realitas tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan dijadikan oleh yang mengatur tujuan itu. Pengatur tujuan itu adalah Tuhan.
4.      Argumen Moral. Manusia bermoral karena dapat membedakan yang baik dan yang buruk. Itu menunjukkan bahwa ada dasar dan sumber moralitas. Dasar dan sumber moralitas itu adalah Allah.
Filsafat Stoa yang paentesis mengajarkan bahwa segala sesuatu dijadikan oleh kekuatan ilahi, yaitu kekuatan alam. Alam semesta dikuasai oleh logos, yakni rasio Allah. Logos yang merupakan rasio tersebut adalah tata tertib dunia. Sesungguhnya determenisme stoisisme yang amat terkenal adalah barangkali yang paling jelas dan paling tegas dari seluruh ajaran metafisika yang penteistik.
Filsafat paenteistik Benedictus Spinoza (1632-1677) mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada adalah Allah. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada sesuatu apapun yang dapat berada tanpa Allah.
Skeptisisme secara umum meragukan segala keyakinan tentang keberadaan Allah. Skeptisisme lebih mengarah pada ateisme dalam arti ateisme teoritis, yakni suatu paham yang berupaya mempertanggung jawabkan secara falsafati keyakinan bahwa Tuhan tidak ada.
David Hume (1711-1776) menegaskan bahwa tidak ada bukti yang benar-benar shahih yang dapat membuktikan bahwa Allah ada dan bahwa Ia menyelenggarakan dunia ini. Ludwig Feuerbach (1804-1872) menyatakan bahwa religi tercipta oleh hakikat manusia itu sendiri, yakni egoismenya dan hasratnya akan kebahagiaan. Allah adalah gambaran dari keinginan manusia yang dianggap dan diyakini sungguh-sungguh ada. Dengan teori proyeksi Feuerbach menunjukkan bahwa Allah tidak lain daripada apa yang diinginkan manusia.
Friedrich Nietzche (1844-1900) menyatakan bahwa konsep tentang Allah dalam agama kristen adalah konsep paling buruk dan rusak dari seluruh konsep tentang Allah, karena dianggap sebagai Allah dari orang-orang lemah, maka Allah juga lemah. Dari hal tersebut terdapat kesimpulan yang menggemparkan, yakni Allah telah mati. Sigmund Freud (1856-1939) menyatakan Allah memiliki 3 fungsi utama bagi kehidupan manusia, yakni; Allah dianggap penguasa alam, keyakinan agamis memperdamaikan manusia dengan nasibnya yang mengerikan, Allah memelihara dan menjaga agar ketentuan-ketentuan dan peraturan kultur akan dilaksanakan.
B.       Antropologi (Filsafat Manusia)
Secara harfiah berasal dari bahasa inggris; philosophical antropology yang berarti pengetahuan filosofis mengenai manusia.
Secara terminologi terdapat beberapa pengertian, yakni;
1.      Menunjuk pada studi yang memperlakukan manusia sebagai suatu keseluruhan. Berusaha menghindari atau mengatasi pendekatan yang memandang manusia tidak lebih dari sebuah objek ilmu. Contoh; gerakan fenomenologi, eksistensialisme, personalisme.
2.      Antropologi berusaha menjawab pertanyaan tentang apa itu manusia. Ada usaha mengadakan sintesa antara pandangan ilmiah dan aksiologi objektif tentang manusia dan dunia.
3.      Sebuah trend dalam filsafat barat sesudah perang dunia II di Jerman mendapat bentuk akhir dan menentukan.
Satu diantara persoalan antropologis yang terpenting adalah “Apakah manusia itu sesungguhnya?”. Berikut adalah beberapa jawaban dalam pemikiran filsafat tentang hakikat manusia;
a.       Penyelesaian realisme klasik
Pandangan realisme klasik bersifat deskriptif. Kata kunci dari realisme klasik ini adalah materi dan bentuk. Manusia adalah berhakikat rangkap, yaitu segi fisik dan segi yang bersifat akali. Pandangan ini berasal dari ajaran metafisika Aristoteles tentang hylomorfis, manusia merupakan makhluk hylomorfis yang mempunyai dua bagian yang hakiki, yakni raga materiil yang terorganisir dan hidup rasional yang menggerakkanya.
b.      Penyelesaian teologisme
Pandangan ini secara umum menemukan suatu unsur transendensi yang mengacu kepada sesuatu yang lebih besar diluar manusia, yang diyakini akan memberikan petunjuk besar mengenai masalah terkait, tegasnya adalah hubungan antara manusia dan tuhanya yang khas.
c.       Idealisme
Pertanda paling menonjol yang membedakan manusia dari yang bukan manusia adalah kemampuan mempergunakan simbol-simbol dan menciptakan satuan-satuan yang bersifat fungsional dengan menggunakan simbol-simbol tersebut untuk mencapai mencapai penyesuaian diri yang memadai. Jadi pertanda yang membedakan manusia dengan yang lain adalah tingkah laku simbolisnya.
d.      Materialisme historis
Hakekat manusia sesungguhnya mengalami perubahan. Manusia adalah apa yang mereka kerjakan. Karenanya yang menentukan hakekat manusia adalah tingkah laku, dan bukan esensi. Sudah jelas manusia tidak dapat dicampur adukkan dengan hewan yang lebih rendah derajatnya. Karenanya apa yang mereka lakukan harus dengan satu cara yang berbeda dengan apa yang ddilakukan hewan. Namun apabila manusia adalah apa yangmereka kerjakan, dan apa yang mereka kerjakan itu ditentukan oleh cara produksi, maka menguasai alat produksi berarti menguasai manusia.













Disusun Oleh;
1.      Feri Mustaufidah                     (210911060)
2.      Terezia Elen P.             (210911061)
3.      Wahyu Choirul Huda   (210911062)

Sumber; Ahmad Faruk, Filsafat Umum(Sebuah Penelusuran Tematis), 2009, Ponorogo: STAIN Po Press.

No comments:

Post a Comment

Entri Populer